Jangan memandang sebelah mata kepada orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik. Keadaan fisik yang cacat tak harus membuat seseorang tersebut menjadi minder atau terpuruk.
Salah satunya
sosok yang mensejahterakan para difabel ialah Ibu Etty Nuzuliyanti, Ibu dari dua
anak yang lahir di Madiun, 31 Januari 1964 ini memberikan pembuktian pada
seluruh dunia bahwa orang cacat bukanlah
sebuah hambatan untuk bisa berguna bagi masyarakat dan bukan hanya untuk
menyusahkan orang lain.
Saya bangga
kepada Ibu Etty karena beliau adalah sosok yang peduli terhadap penyandang
difabel, beliau lulusan S-1 Sastra Indonesia Fakultas Sastra Budaya Universitas
Sebelas Maret, Surakarta. Berbekal pengalamanya selama bekerja beliau
memberikan kesempatan kepada penyandang difabel untuk mengikuti pelatihan
membantik. Kemudian beliau mulai membuka bisnis batik yang pekerjanya adalah
para difabel yang kebanyakan dari mereka mengalami cacat kaki. Namun diusahanya
untuk membangkitkan semangat para difabel beliau juga harus kuat dalam
menghadapi penyakit yang dideritanya, beliau divonis gagal ginjal kronis yang
membuat dirinya mudah lelah dan harus cuci darah dua kali dalam seminggu, hal
inilah yang membuat saya bangga kepada beliau karena dikondisinya yang seperti
ini masih memikirkan kesehejahteran para difabel, mentalnya kuat dalam
mengahadapi penyakit sampai beliau berkata “Yang sakit itu badanku saja,jiwaku
sehat”.
Inilah sosok
yang perlu kita tiru semangatnya untuk peduli terhadap orang-orang yang kurang
beruntung disekitar kita. Semoga Ibu Etty Nuzuliyanti terus diberikan kesehatan
dan kekuatan untuk menjalani hari-harinya.
*Diksi
Program
|
Transport
|
Gaji
|
Difabel
|
Sayembara
|
Mantap
|
Insiden
|
Motif jajaran
|
Goresan
|
Tak berdaya
|
Klien
|
Syukur
|
Memandang
|
Konsistensi
|
Terbesit
|
Mental
|
Tertatih
|
Mengontrol
|
Sedia kala
|
Tidak patah arang
|
Susut
|
Memberdayakan
|
Bangkit
|
Kronis
|
Nonbendawi
|
Pemburu
|
Divonis
|
Honor
|
Praktis
|
Supel
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar